Rabu, 15 Juni 2022

Geger Sepoy (1812)

Sultan Hamengku Buwono II atau dikenal dengan Sultan Sepuh memang tokoh yang tidak mengenal kompromi dengan pihak asing yang bertujuan menginjak-injak harga diri dan martabat kesultanan Yogyakarta. Untuk itulah dia berkali kali turun tanhta. Mengikuti pergolakan dan perang di Eropa maka pihak asing di tanah Jawa pada akhir tahun 1700-an dan awal tahun 1800-an berkutat pada tiga negara yaitu Perancis, Belanda dan Inggris.

 

Sultan Sepuh diturunkan dari takhtanya pertama kali pada tahun 1810 pada saat Daendels sebagai wakil Perancis dan gubernur jenderal yang berkuasa. Penyebabnya adalah Sultan Sepuh tidak mau tunduk pada aturan Daendels yang ingin menjadikan Kesultanan Yogyakarta sebagai bawahannya. Sultan Sepuh tetap memegang tradisi, budaya dan adat istiadat keraton yang akan diubah Dendels menjadi keraton yang berhaluan liberalisme misalnya tempat duduk raja harus sejajar dengan residen Yogyakarta atau sejajar dengan tempat duduk gubernur jenderal di Batavia. Karena Sultan Sepuh menentang maka Daendels mengirim tentara sebanyak 3.200 tentara untuk menggempur Yogyakarta. Akhirnya Sultan sepuh bersedia diturunkan dari takhtanya dari pada banyak korban di pihak rakyat.

 

Kesultanan kemudian diserahkan kepada Putra Mahkota sebagai “Pangeran Wali” yaitu Pangeran Surojo. Tetapi saat itu walaupun Sultan Sepuh turun takhta tetap diperbolehkan di keraton sehingga segala keputusan keraton masih dikendalikan oleh Sultan Sepuh. Ketika Inggris datang ke tanah Jawa merebut Jawa dari tangan kekuasaan Perancis-Belanda maka Sultan Sepuh naik takhta lagi menggantikan Putra mahkota.

 

Ketika Inggris menguasai Jawa dan Sultan Sepuh naik takhta kembali, Sultan Sepuh juga tidak mau tunduk kepada aturan yang diberlakukan oleh Inggris di bawah Raffles. Tempat duduk Sultan Sepuh harus lebih tinggi dari residen Inggris di Yogyakarta dan tempat duduk Raffles sendiri apabila mereka bertemu dalam sebuah perundingan. Cara meninggikan tempat duduk itu dengan mengganjal kursi dengan kursi kecil di bawahnya sehingga tampak lebih tinggi. Hal itu kemudian membuat Raffles memutuskan menurunkan Sultan sepuh dan diganti dengan Putra mahkota yang naik takhta.

 

Akhirnya Raffles mengultimatum Sultan Sepuh dengan membawa tentara Sepoy dan Inggris agar Sultan Sepuh turun takhta dan kedudukan raja digantikan Putra Mahkota. Apabila tidak turun takhta maka keraton Yogyakarta akan diserang Inggris. Karena Sultan Sepuh tidak menuruti perintah Inggris maka pada tanggal 18, 19 dan 20 Juni 1812 Keraton Yogyakarta diserang tentara Sepoy dan Inggris yang berjumlah 1200 tentara. Serangan itu disebut Geger Sepoy karena tentara Inggris membawa prajurit Sepoy dari India sebagai tentara bayaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah Keraton Yogyakarta kalah dalam penyerbuan, Sultan Sepuh ditangkap dan diputuskan dibuang ke Pulau Penang (sekarang wilayah Malaysia). Sedangkan harta milik keraton Yogyakarta dijarah habis oleh tentara Sepoy dan tentara Inggris. Harta itu berupa uang, emas, berlian, keris dan lain sebagainya. Tidak itu saja Kekayaan intelektual milik keraton Yogyakarta baik berupa manuskrip, arsip keraton, gamelan juga turut dirampas oleh tentara Inggris dan Sepoy.

 

Raffles kemudian mengangkat Pangeran Surojo sebagai Putra Mahkota naik takhta menjadi Sultan Hamengku Buwono III dan sejak itu Kesultanan Yogyakarta menjadi kekuasaan Inggris hingga Inggris pergi dari tanah Jawa karena hasil perjanjian London yang mengharuskan Inggris pergi dari Jawa dan diganti dengan kolonial Belanda menguasai Indonesia.

 

Selasa, 14 Juni 2022

Konflik Inggris Dengan Belanda Memperebutkan Pulau Jawa

Pada bulan Mei 1811 Daendels dipanggil Kaisar Napoleon untuk kembali ke Belanda. Kedatangan gubernur jenderal yang baru pengganti Daendels membawa angin segar bagi raja-raja Jawa. Karakter gubernur jenderal yang baru ini berbanding terbalik dengan Daendels sehingga cepat mendapatkan simpati di lingkungan yang dipimpinnya. Jan Willem Janssens memang mempunyai karakter yang jujur, kebapakan, dan sabar.

Janssens memerintah sejak tanggal 6 Mei 1811 dan tidak lagi memusatkan perhatian kepada raja-raja Jawa tetapi pada mempersiapkan strategi dan infrastruktur pertahanan Jawa dalam rangka menghadapi invansi pasukan Inggris yang sudah semakin dekat. Karena hubungan yang baik dengan raja-raja Jawa Janssens meminta bantuan militer kepada raja-raja Jawa, termasuk juga Kesultanan Yogyakarta. Selain bantuan militer Janssens tidak meminta bantuan dalam bentuk apa pun. Sikap Janssens ini dipertahankan sampai ia menandatangani Kapitulasi Tuntang pada 18 September 1811 dan menyerahkan wilayah koloni Jawa kepada Inggris.

Untuk menghadapi Belanda di Jawa, Inggris sudah bersiap di Malaka dengan kekuatan 12.000 serdadu terlatih yang didatangkan langsung dari resimen-resimen garis depan, batalion-batalion Sepoy Benggala dan pasukan artileri berkuda dari Madras.

 

Inggris di bawah komando Raffles berkirim surat kepada raja-raja Jawa yang isinya Inggris siap membantu mereka untuk mengakhiri segala sesuatu yang berkaitan antara raja-raja Jawa dengan rezim Perancis-Belanda. Bukan itu saja, Raffles juga berkirim surat kepada Sultan Sepuh dan berjanji akan memulihkan martabatnya dan mengembalikan kekuasaannya sebagai raja. Para raja Jawa itu juga diminta membatalkan atau tidak membuat perjanjian apa pun dengan rezim Belanda dan menunggu saja kedatangan Inggris. Dengan janji Raffles itu seakan-akan Inggris berbeda dengan Belanda yang kejam dan serakah. Dengan adanya surat itu pupus sudah harapan Rezim Belanda di bawah kekuasaan Janssens untuk meminta bantuan raja-raja Jawa, walaupun hanya berupa tentara untuk melawan Inggris.

Untuk menghadapi tentara Inggris, rezim Belanda menyiapkan 17.774 tentara warisan Daendels. Tentara sejumlah itu merupakan jerih payah Daendels untuk mengorganisasi pertahanan militer yang semula hanya berjumlah 7.000 tentara. Pada 3 Agustus 1811 tentara Inggris yang dipimpin oleh Kolonel (kelak Mayor Jenderal Sir) Samuel Gibbs melakukan pendaratan besar-besaran. Sejumlah kapal dikerahkan untuk menggempur rezim Belanda di Jawa. Ada 81 kapal baik kapal angkut maupun kapal perang mendarat di pantai Batavia, di Cilincing, dan pada 8 Agustus 1811 Kota Tua (Batavia) berhasil direbut Raffles.

Janssens berusaha mempertahankan kekuasaannya bersama dengan tentaranya di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara), akan tetapi gelombang tentara Inggris yang dahsyat tidak dapat dibendung Janssens. Dalam pertempuran itu, tentara Belanda dibuat berantakan sehingga 50 persen serdadu Eropa dan Ambon tewas. Tentara bantuan dari Jawa dan Madura juga 80 persen tewas.

Pertempuran tidak seimbang itu kelak diabadikan di daerah sekitar Jatinegara sebagai nama daerah Rawabangke atau Rawaangke tempat di mana para korban pertempuran mati di rawa-rawa secara bertumpuk-tumpuk.

Meester Cornelis (Jatinegara) jatuh pada 26 Agustus 1811 dan mengakibatkan 500 serdadu korban tewas di pihak Inggris. Janssens kemudian memindahkan pusat pertahanan dan pemerintahan ke Semarang. Di sana ia menyusun lagi kekuatan militernya. Tetapi karena ia sudah banyak kehilangan tentara di Meester Cornelis (Jatinegara), maka gempuran Inggris yang mendaratkan pasukannya pada 12 September 1811 sebanyak 1.600 yang dikomandani Kolonel Samuel Gibbs membuat Janssens tidak berdaya.

Akhirnya, empat hari setelah pendaratan tentara Inggris di Semarang, tepatnya di Jatingaleh dekat Srondol di daratan tinggi Semarang, Janssens dan sekutu-sekutu Jawanya (prajurit Kesunanan dan Mangkunegaran) dapat dikalahkan dengan telak, karena sebagian besar dari tentara campuran itu melarikan diri. Tapi Janssens tidak begitu mudah menyerah. Ia mundur ke Salatiga untuk kembali menyusun kekuatan kembali. Ketika tentara Inggris mendarat di Semarang Pangeran Notokusumo dan putranya disuruh Raffles pergi ke Surabaya dan berada di sana.

Tentara Inggris yang beringas itu terus merangsek ke depan menghancurkan sisa- sisa tentara Belanda. Akhirnya pada 18 September 1811 di atas Jembatan Kali Tuntang Janssens dengan terpaksa menandatangani surat pernyataan menyerah. Isi perjanjian Tuntang yaitu:

1.    Jawa dan semua pangkalannya (Madura, Palembang, Makassar, dan Sunda Kecil) diserahkan kepada Inggris.

2.  Militer-militer Belanda menjadi tawanan Inggris.

3.    Pegawai-pegawai sipil yang ingin bekerja, dapat bekerja terus dalam pemerintahan Inggris. Engelhard tetap menjadi minister walaupun dia orang Belanda.

 

 

Setelah Janssens menyerah, pemerintahan Raffles mengambil kebijakan bahwa semua pejabat sipil dalam pemerintahan Prancis-Belanda diizinkan untuk terus bekerja demi melayani pemerintahan yang baru, yakni Inggris. Dari orang-orang inilah agaknya Raffles mendapatkan informasi bahwa Sultan Sepuh adalah raja Jawa yang suka membangkang terhadap kekuasaan asing di Jawa. Sementara itu para pejabat militer yang menjadi tawanan perang dan dikirim ke Benggala. Sejak saat itu, rezim Inggris menancapkan hegemoninya di tanah Jawa di bawah komando Raffles.

 

Perlawanan Sisingamangaraja (1878 - 1907)

     Sisingamangaraja XII (lahir di Bakara, 18 Februari 1845, meninggal di Dairi, 17 Juni 1907 pada umur 62 tahun) adalah seorang raja di Negeri Toba, Sumatra Utara dan pejuang yang berperang melawan Belanda. Sebelumnya, ia dimakamkan di Tarutung Tapanuli Utara, lalu dipindahkan ke Soposurung, Balige pada tahun 1953.

Nama kecil Sisingamangaraja XII adalah Patuan Bosar, yang kemudian digelari Ompu Pulo Batu. Ia juga dikenal dengan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu. Ia naik takhta pada tahun 1876 untuk menggantikan ayahnya, Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon. Selain itu, ia juga disebut juga sebagai Raja Imam.

Penobatan Sisingamangaraja XII sebagai maharaja di Negeri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka) Belanda dalammengamankan modal asing yang beroperasi di Hindia Belanda. Ia tidak mau menandatangani Korte Verklaring (perjanjian pendek) di Sumatra, terutama Kesultanan Aceh dan Toba karena kerajaan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainnya. Di sisi lain, Belanda sendiri berusaha untuk menanamkan monopolinya atas kerajaan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan Perang Tapanuli yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Sisingamangaraja adalah keturunan seorang pejabat yang ditunjuk oleh Raja Pagaruyung yang sangat berkuasa ketika itu, yang datang berkeliling Sumatra Utara untuk menempatkan pejabat-pejabatnya. Dalam sepucuk surat kepada Marsden bertahun 1820, Raffles menulis bahwa para pemimpin Batak menjelaskan kepadanya mengenai Sisingamangaraja yang merupakan keturunan Minangkabau dan bahwa di Silindung terdapat sebuah arca batu berbentuk manusia sangat kuno yang diduga dibawa dari Pagaruyung. Sampai awal abad ke-20, Sisingamangaraja masih mengirimkan upeti secara teratur kepada pemimpin Minangkabau melalui perantaraan Tuanku Barus yang bertugas menyampaikannya kepada pemimpin Pagaruyung.

Tahun 1877, para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII. Kemudian, pemerintah Belanda dan para penginjil sepakat untuk tidak hanya menyerang markas Sisingamangaraja XII di Bakara, tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba.

Pada 6 Februari 1878, pasukan Belanda sampai di Pearaja, tempat kediaman penginjil Ingwer Ludwig Nommensen. Kemudian, beserta penginjil Nommensen dan Simoneit sebagai penerjemah, pasukan Belanda terus menuju ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan. Namun, kehadiran tentara kolonial ini telah memprovokasi Sisingamangaraja XII yang kemudian mengumumkan pulas (perang) pada 16 Februari 1878 dan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan.

Pada 14 Maret 1878, datang Residen Boyle bersama tambahan pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Engels sebanyak 250 orang tentara dari Sibolga. Pada 1 Mei 1878, Bakkara, pusat pemerintahan Sisingamangaraja diserang pasukan kolonial dan pada 3 Mei 1878, seluruh Bakkara dapat ditaklukkan. Namun, Sisingamangaraja XII beserta pengikutnya dapat menyelamatkan diri dan terpaksa keluar mengungsi. Sementara para raja yang tertinggal di Bakara dipaksa Belanda untuk bersumpah setia dan kawasan tersebut dinyatakan berada dalam kedaulatan pemerintah Hindia Belanda.

Walaupun Bakara telah ditaklukkan, Sisingamangaraja XII terus melakukan perlawanan secara gerilya. Namun, sampai akhir Desember 1878, beberapa kawasan seperti Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, serta Gurgur juga dapat ditaklukkan oleh pasukan kolonial Belanda. Di antara tahun 1883-1884, Sisingamangaraja XII berhasil melakukan konsolidasi pasukannya. Kemudian, bersama pasukan bantuan dari Aceh, secara ofensif menyerang kedudukan Belanda, di antaranya Uluan dan Balige pada Mei 1883 serta Tangga Batu pada tahun 1884.

Sisingamangaraja XII meninggal pada 17 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di pinggir Bukit Lae Sibulbulen, di suatu desa yang bernama Si Ennem Kodn, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang. Sebuah peluru menembus dadanya akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel. Menjelang napas terakhir, ia tetap berucap, “Ahu (aku) … Sisingamangaraja.”

Turut gugur pada waktu itu dua putranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya, Lopian. Sementara itu, keluarganya yang tersisa ditawan di Tarutung. Sisingamangaraja XII sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung setelah sebelumnya mayatnya diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat Toba. Makamnya kemudian dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige sejak 14 Juni 1953.

 

Perlawanan Teuku Umar di Aceh (1873-1899)

  

Teuku Umar dilahirkan di Meulaboh, Aceh Barat, pada tahun 1854. Ia anak seorang uleebalang (hulubalang) bernama Teuku Achmad Mahmud dari perkawinannya dengan adik perempuan Raja Meulaboh. Umar mempunyai dua orang saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki.

 

Nenek moyang Umar adalah Datuk Makhudum Sati yang berasal dari Minangkabau. Dia merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman. Salah seorang keturunan Datuk Makhudum Sati pernah berjasa terhadap Sultan Aceh, yang pada waktu itu terancam oleh seorang Panglima Sagi yang ingin merebut kekuasaannya. Berkat jasanya tersebut, orang itu diangkat menjadi Uleebalang VI Mukim dengan gelar Teuku Nan Ranceh. Teuku Nan Ranceh mempunyai dua orang putra, yaitu Teuku Nanta Setia dan Teuku Ahmad Mahmud. Sepeninggal Teuku Nan Ranceh, Teuku Nanta Setia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Uleebalang VI Mukim. la mempunyai anak perempuan bernama Cut Nyak Dhien.

 

Teuku Umar dari kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapatkan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani.

 

Ketika Perang Aceh meletus pada 1873, Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya. Ketika itu, umurnya baru menginjak 19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri, kemudian dilanjutkan ke Aceh Barat. Pada umur yang masih muda ini, Teuku Umar sudah diangkat sebagai keuchik gampong (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

 

Pada usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, putri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dhien, putri pamannya, Teuku Nanta Setia. Suami Cut Nya Dien, yaitu Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dunia pada Juni 1878 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda.

 

Teuku Umar kemudian mencari strategi untuk mendapatkan senjata dari pihak Belanda. Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek Belanda. Belanda berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh.

 

Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Ketika bergabung dengan Belanda, Teuku Umar menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Hal tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura untuk mengelabuhi Belanda agar Teuku Umar diberi peran yang lebih besar. Taktik tersebut berhasil. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, permintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pang Laot (Panglima Laut) sebagai tangan kanannya, dikabulkan.

 

Tahun 1884, Kapal Inggris “Nicero” terdampar. Kapten dan awak kapalnya disandera oleh Raja Teunom. Raja Teunom menuntut tebusan senilai 10 ribu dolar tunai. Oleh pemerintah kolonial Belanda, Teuku Umar ditugaskan untuk membebaskan kapal tersebut, karena kejadian tersebut telah mengakibatkan ketegangan antara Inggris dengan Belanda.

 

Teuku Umar menyatakan bahwa merebut kembali Kapal “Nicero” merupakan pekerjaan yang berat. Sebab, tentara Raja Teunom sangat kuat, sehingga Inggris sendiri tidak dapat merebutnya kembali. Namun, ia sanggup merebut kembali asal diberi logistik dan senjata yang banyak sehingga dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Dengan perbekalan perang yang cukup banyak, Teuku Umar berangkat dengan Kapal “Bengkulen” ke Aceh Barat dengan membawa 32 orang tentara Belanda dan beberapa panglimanya.

 

Tidak lama, Belanda dikejutkan berita yang menyatakan bahwa semua tentara Belanda yang ikut dibunuh di tengah laut. Seluruh senjata dan perlengkapan perang lainnya dirampas. Sejak itu, Teuku Umar kembali memihak pejuang Aceh untuk melawan Belanda. Teuku Umar juga menyarankan Raja Teunom agar tidak mengurangi tuntutannya.

 

Teuku Umar membagikan senjata hasil rampasan kepada tentara Aceh dan memimpin kembali perlawanan rakyat. Teuku Umar juga berhasil merebut kembali daerah 6 Mukim dari tangan Belanda. Nanta Setia, Cut Nyak Dhien, dan Teuku Umar kembali ke daerah 6 Mukim dan tinggal di Lampisang, Aceh Besar, yang juga menjadi markas tentara Aceh.


Dua tahun setelah insiden Nicero, pada 15 Juni 1886 merapatlah ke Bandar Rigaih Kapal “Hok Canton” yang dinakhodai pelaut Denmark bernama Kapten Hansen, dengan maksud menukarkan senjata dengan lada. Hansen bermaksud menjebak Umar untuk naik ke kapalnya, menculiknya, dan membawa lari lada yang bakal dimuat ke Pelabuhan Ulee Lheu dan diserahkan kepada Belanda yang telah menjanjikan imbalan sebesar $ 25 ribu untuk kepala Teuku Umar.

 

Umar curiga dengan syarat yang diajukan Hansen dan mengirim utusan. Hansen berkeras Umar harus datang sendiri. Teuku Umar lalu mengatur siasat. Pagi dini hari, salah seorang panglima bersama 40 orang prajuritnya menyusup ke kapal. Hansen tidak tahu kalau dirinya sudah dikepung. Paginya, Teuku Umar datang dan menuntut pelunasan lada sebanyak $ 5 ribu. Namun, Hansen ingkar janji dan memerintahkan anak buahnya menangkap Umar.

 

Teuku Umar sudah siap dan memberi isyarat kepada anak buahnya. Hansen berhasil dilumpuhkan dan tertembak ketika berusaha melarikan diri. Nyonya Hansen dan John Fay ditahan sebagai sandera, sedangkan awak kapal dilepas. Belanda sangat marah karena rencananya gagal. Perang pun berlanjut. Pada tahun 1891, Teungku Chik Di Tiro dan Teuku Panglima Polem VIII Raja Kuala (ayah dari Teuku Panglima Polem IX Muhammad Daud) gugur dalam pertempuran. Belanda sebenarnya pun sangat kesulitan karena biaya perang terlalu besar dan lama.

 

Teuku Umar sendiri merasa perang ini sangat menyengsarakan rakyat. Rakyat tidak bisa bekerja sebagaimana biasanya, petani tidak dapat lagi mengerjakan sawah ladangnya. Teuku Umar pun mengubah taktik dengan cara menyerahkan diri kembali kepada Belanda. September 1893, Teuku Umar menyerahkan diri kepada Gubernur Deykerhooff di Kutaraja bersama 13 orang panglima bawahannya setelah mendapat jaminan keselamatan dan pengampunan. Teuku Umar dihadiahi gelar “Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland”.

 

Istrinya, Cut Nyak Dhien, sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Umar suka menghindar apabila terjadi percekcokan. Teuku Umar menunjukkan kesetiaannya kepada Belanda dengan sangat meyakinkan. Setiap pejabat yang datang ke rumahnya selalu disambut dengan menyenangkan. Ia selalu memenuhi setiap panggilan dari gubernur Belanda di Kutaraja dan memberikan laporan yang memuaskan sehingga ia mendapat kepercayaan yang besar dari gubernur Belanda.

 

Kepercayaan itu dimanfaatkan dengan baik demi kepentingan perjuangan rakyat Aceh selanjutnya. Sebagai contoh, dalam peperangan, Teuku Umar hanya melakukan perang pura-pura dan hanya memerangi Uleebalang yang memeras rakyat (misalnya Teuku Mat Amin). Pasukannya disebarkan bukan untuk mengejar musuh, melainkan untuk menghubungi para pemimpin pejuang Aceh dan menyampaikan pesan rahasia.

 

Pada suatu hari di Lampisang, Teuku Umar mengadakan pertemuan rahasia yang dihadiri para pemimpin pejuang Aceh untuk membicarakan rencana Teuku Umar untuk kembali memihak Aceh dengan membawa lari semua senjata dan perlengkapan perang milik Belanda yang dikuasainya. Cut Nyak Dhien pun sadar bahwa selama ini suaminya telah bersandiwara di hadapan Belanda untuk mendapatkan keuntungan demi perjuangan Aceh. Bahkan, gaji yang diberikan


Belanda secara diam-diam dikirim kepada para pemimpin pejuang untuk membiayai perjuangan. Pada 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kilogram amunisi, dan uang 18.000 dolar.

 

Berita larinya Teuku Umar menggemparkan pemerintah kolonial Belanda. Gubernur Deykerhooff dipecat dan digantikan oleh Jenderal Vetter. Tentara baru segera didatangkan dari Pulau Jawa. Vetter mengajukan ultimatum kepada Umar untuk menyerahkan kembali semua senjata kepada Belanda. Umar tidak mau memenuhi tuntutan itu. Maka, pada 26 April 1896, Teuku Johan Pahlawan dipecat sebagai Uleebalang Leupung dan Panglima Perang Besar Gubernemen Hindia Belanda.

 

Teuku Umar mengajak uleebalang-uleebalang yang lain untuk memerangi Belanda. Seluruh komando perang Aceh mulai tahun 1896 berada di bawah pimpinan Teuku Umar. la dibantu oleh istrinya, Cut Nyak Dhien, dan Panglima Pang Laot serta mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud. Pertama kali dalam sejarah Perang Aceh, tentara Aceh dipegang oleh satu komando.

 

Pada Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem. Pada 1 April 1898, Teuku Panglima Polem bersama Teuku Umar dan para Uleebalang serta para ulama terkemuka lainnya menyatakan sumpah setianya kepada Raja Aceh Sultan Muhammad Daud Syah. Pada Februari 1899, Jenderal Van Heutsz mendapat laporan dari mata-matanya mengenai kedatangan Teuku Umar di Meulaboh dan segera menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat di perbatasan Meulaboh. Malam menjelang 11 Februari 1899, Teuku Umar bersama pasukannya tiba di pinggiran Kota Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat. Posisi pasukan Umar tidak menguntungkan dan tidak mungkin mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur.

 

Dalam pertempuran itu, Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya. Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar berita kematian suaminya, Cut Nyak Dhien sangat bersedih. Namun, itu bukan berarti perjuangan telah berakhir. Dengan gugurnya suaminya tersebut, Cut Nyak Dhien bertekad untuk meneruskan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Ia pun mengambil alih pimpinan perlawanan pejuang Aceh.

 

 

Perlawanan Pangeran Antasari di Kalimantan (1859 - 1862)


Pangeran Antasari lahir pada tahun 1797 di Banjar. Ayahnya bernama Pangeran Masohut (Mas’ud). Ayahnya merupakan anak dari Pangeran Amir yang merupakan anak dari Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik takhta pada tahun 1785. Ibunya bernama Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Semasa muda, Pangeran Antasari mempunyai nama Gusti Inu Kartapati. Pangeran Antasari memiliki tiga putra dan delapan putri. Ia memiliki saudara perempuan yang bernama Ratu Antasari yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam, tetapi meninggal setelah melahirkan calon pewaris Kesultanan Banjar yang diberi nama Rakhmatillah, yang juga meninggal semasa masih bayi.

 

Penjajahan kolonial Belanda ketika menduduki wilayah Kalimantan tepatnya berada di Banjar. Strategi yang mereka jalankan dikenal dengan nama politik divide et impera, yang berarti membagi, memecah belah, dan menguasai atau yang dikenal dengan istilah “politik adu domba”. Hal tersebut bertujuan untuk menguasai kerajaan di Banjar. Pada tahun 1859, Sultan Tamjid diangkat menjadi Sultan Kerajaan Banjar, padahal yang berhak naik takhta adalah Pangeran Hidayat. Sultan Tamjid tidak disukai oleh rakyat karena terlalu memihak kepada Belanda. Belanda sengajamemberikan dukungannya kepada Sultan Tamjid. Hal ini menunjukkan campur tangan Belanda sudah sangat meresahkan, bahkan dalam pengangkatan seorang sultan pun merekalah yang menentukan.

 

Sebagai salah seorang keturunan Raja Banjarmasin yang dibesarkan di luar istana, Pangeran Antasari merasa prihatin dengan situasi tersebut. Walaupun ia keluarga Sultan Banjar, tetapi tidak pernah hidup dalam lingkungan istana. Karena dibesarkan di tengah-tengah rakyat biasa, Antasari menjadi dekat dengan rakyat, mengenal perasaan, dan mengetahui penderitaan mereka. Pada waktu itu, kekuasaan kolonial Belanda sedang berusaha untuk melemahkan Kerajaan Banjar.

 

Belanda mengadu domba golongan-golongan yang ada di dalam istana sehingga mereka terpecah-pecah dan bermusuhan. Maka, Antasari pun berinisiatif untuk mengusir penjajah dari Kerajaan Banjar tanpa kompromi. Pangeran Antasari berusaha membela hak Pangeran Hidayat, lalu bersekutu dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Martapura, Barito, Pleihari, Kahayan, Kapuas, dan daerah lain. Mereka semuanya bertekad untuk mengangkat senjata mengusir Belanda dari Kerajaan Banjar. Sikap anti terhadap Belanda muncul akibat pergantian kekuasaan di istana yang menimbulkan keresahan di antara rakyat.

 

Pada 25 April 1859, Perang Banjar terjadi saat Pangeran Antasari beserta dengan sekitar 6.000 pasukan menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron. Berawal dari peperangan tersebut, peperangan demi peperangan terjadi di seluruh wilayah Kerajaan Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari yang dibantu dengan para panglima dan pasukannya. Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tabalong, Tanah Laut, dan Sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Pertempuran yang terjadi antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan pasukan Belanda berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang mendapat bantuan dari Batavia menang dalam persenjataan sehingga berhasil membuat mundur pasukan Khalifatul Mukminin dan memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.

Pangeran Antasari berhasil mengerahkan tenaga rakyat dan mengobarkan semangat mereka sehingga Belanda menghadapi kesulitan. Karena hebatnya perlawanan, maka Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, tetapi ia tetap pada pendiriannya. Ini dijelaskan dalam surat yang ditulisnya untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijk di Banjarmasin tanggal 20 Juli 1861, “... dengan tegas kami terangkan kepada tuan: kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan) 

Pada 14 Maret 1862, Pangeran Antasari diangkat sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin di hadapan para kepala suku Dayak dan adipati penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas, dan Kahayan, yaitu Tumenggung Surapati/Tumengung Yang Pati Jaya Raja. Pangeran Antasari juga merupakan pemimpin Suku Bakumpai, Kutai, Maanya, Murung, Ngaju, Pasir, Siang, Sihong, dan beberapa suku yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito.

Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris Kesultanan Banjar, untuk mengukuhkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan, “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah.” Seluruh rakyat Banjar mengangkat Pangeran Antasari menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminini, yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang, dan pemuka agama tertinggi.

Dalam keadaan sangat terjepit, Pangeran Hidayat akhirnya menyerah kepada Belanda. Kepala-kepala daerah lain pun banyak pula yang menyerah. Pangeran Antasari tetap melanjutkan perjuangan. Baginya, pantang untuk berdamai dengan Belanda, apalagi menyerah. Ia terus melanjutkan perjuangannya dengan berperang di kawasan Kalimantan Selatan dan Tengah. Pada Oktober 1862, suatu serangan besar- besaran telah direncanakan.

Pasukan telah disiapkan, wabah penyakit cacar menyerang dan melemahkan pasukan ini beserta Antasari juga terkena wabah tersebut. Pangeran Antasari meninggal dunia pada 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang. Perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Muhammad Seman.

 

Masa Kerajaan Hindu - Buddha di Indonesia

  Masa Kerajaan Hindu - Buddha di Indonesia