Selasa, 16 Juli 2024

Agresi Militer Belanda I

Agresi Militer Belanda I disebabkan Belanda yang tidak menerima hasil Perundingan Linggarjati yang telah disepakati bersama pada 25 Maret 1947. Belanda menafsirkan isi dari Perjanjian Linggarjati berdasarkan pidato Ratu Wihelmina pada 7Desember 1942 yang intinya menginginkan bangsa Indonesia menjadi anggota Commonwealth (negara persemakmuran) dan akan dibentuk menjadi negara federasi,kemudian Belanda yang akan mengatur hubungan luar negeri bangsa Indonesia.

Di tengah-tengah upaya mencari kesepakatan dalam pelaksanaan isi Persetujuan Linggarjati, Belanda terus melakukan tindakan yang bertentangan dengan isi Persetujuan Linggarjati. Di samping mensponsori pembentukan pemerintahan federasi, Belanda juga terus memasukkan kekuatan tentaranya. Pada 27 Mei 1947, Belanda mengirim ultimatum yang isinya sebagai berikut. a). Pembentukan pemerintahan federal sementara (pemerintahan darurat). b). Pembentukan Dewan Urusan Luar Negeri. c). Dewan Urusan Luar Negeri bertanggung jawab atas pelaksanaan ekspor, impor, dan devisa. d).Pembentukan pasukan keamanan dan ketertiban bersama. Pembentukan pasukan gabungan ini termasuk juga di wilayah RI.

Pada prinsipnya, Perdana Menteri Syahrir (yang kabinetnya jatuh pada Juni 1947) dapat menerima beberapa usulan, tetapi menolak mengenai pembentukan pasukan keamanan bersama di wilayah RI. Tanggal 3 Juli 1947 dibentuk kabinet baru di bawah Amir Syarifudin yang kebijakannya juga menolak pembentukan pasukan keamanan bersama di wilayah RI. Pada 15 Juli 1947, Letnan Gubernur Jenderal Belanda Dr.H.J. Van Mook menyampaikan pidato radio bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Perjanjian Linggarjati. Selain itu, Van Mook juga mengultimatum bangsa Indonesia agar menarik pasukannya untuk mundur dari garis batas demarkasi sejauh 10 kilometer.

Pada saat itu, jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang dengan persenjataan yang modern termasuk persenjataan berat (artileri) yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara Australia. Kemudian, Belanda melancarkan serangan kepada Indonesia pada 21 Juli 1947. Tujuan utama Agresi Militer Belanda I ialah sebagai berikut. a). Bidang politik: bertujuan untuk mengepung wilayah ibu kota Republik Indonesia dan menghilangkan secara de facto Republik Indonesia dengan menghapus RI dari peta. b). Bidang ekonomi: merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. c). Bidang militer: menghapus TNI/TKR sebagai ujung tombak pertahanan bangsa, dengan begitu Indonesia akan lemah dan mudah dikendalikan.

Untuk mengelabui dunia internasional,Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil (Politionele Acties) dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan

dalam negeri. Konferensi pers pada malam 20 Juli 1947 di istana tempat Gubernur Jenderal H.J. Van Mook mengumumkan kepada wartawan tentang dimulainya Aksi Polisionil Belanda pertama.Serangan di beberapa daerah seperti di Jawa Timur bahkan telah dilancarkan tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli 1947 malam sehingga dalam bukunya, J.A. Moor menulis Agresi Militer Belanda 231 I dimulai tanggal 20 Juli 1947.Belanda berhasil menerobos ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatra,Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatra Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Sumatra Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau. Di Jawa Tengah, mereka menguasai seluruh pantai utara dan di Jawa Timur,sasaran utamanya adalah wilayah yang terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula.Pada agresi militer pertama ini, Belanda juga mengerahkan kedua pasukan khusus,yaitu Korps Speciale Troepen (KST) di bawah Raymond Westerling yang saat itu berpangkat Kapten dan Pasukan Para I (le para compagnie) di bawah Kapten C.Sisselaar. Pasukan KST merupakan pengembangan dari pasukan DST, pasukan yang melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan (Pembantaian Westerling) dan ditugasan kembali untuk melancarkan agresi militer di Pulau Jawa dan di wilayah Sumatra Barat.Dalam agresi tersebut, Belanda berhasil menaklukan daerah-daerah penting Republik Indonesia seperti kota, pelabuhan, perkebunan, dan pertambangan.

Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota VT-CLA milik Patnaik dari Singapura dengan simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari Singapura sumbangan Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh Belanda dan mengakibatkan tewasnya Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto, Komodor Muda Udara dr. Abdulrahman Saleh, dan Perwira Muda Udara I Adisumarno Wiryokusumo.Pasukan TNI belum siap menghadang serangan yang datang secara tiba-tiba itu. Serangan tersebut mengakibatkan pasukan TNI terpencar-pencar. Dalam keadaan seperti itu,pasukan TNI berusaha untuk membangun daerah pertahanan baru. Pasukan TNI kemudian melancarkan taktik perang gerilya. Dengan taktik ini, ruang gerak pasukan Belanda berhasil dibatasi. Gerakan pasukan Belanda hanya berada di kota besar dan jalan raya, sedangkan di luar kota, kekuasaan berada di tangan pasukan TNI. Tanggal 30 Juli 1947,pemerintah India dan Australia mengajukan permintaan resmi agar masalah Indonesia dengan Belanda dimasukkan dalam agenda Dewan Keamanan PBB.Permintaan itu diterima baik dan dimasukkan agenda dalam sidang Dewan Keamanan PBB.

Tanggal 1 Agustus 1947, Dewan Keamanan PBB memerintahkan penghentian permusuhan kedua belah pihak dan mulai berlaku sejak tanggal 4 Agustus 1947.Sementara itu, untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata, Dewan Keamanan PBB membentuk komisi Konsuler dengan angota-anggotanya yang terdiri dari para Konsul Jenderal yang berada di wilayah Indonesia. Komisi Konsuler diketuai oleh Konsul Jenderal Amerika Serikat Dr. Walter Foote dengan beranggotakan Konsul Jenderal Cina,Belgia,Peranci, Inggris, dan Australia.

Tanggal 3 Agustus 1947, Belanda menerima resolusi Dewan Keamanan PBB dan memerintahkan kepada Van Mook untuk menghentikan tembak-menembak.Pelaksanaannya dimulai pada malam hari pada 4 Agustus 1947. Kemudian, pada 14Agustus 1947, dibuka sidang Dewan Keamanan PBB. Sutan Syahrir hadir dari Indonesia.Dalam pidatonya di DK PBB,Syahrir menegaskan bahwa untuk mengakhiri berbagai

pelanggaran dan penghentian pertempuran, perlu dibentuk komisi pengawas. Pada 25Agustus 1947, DK PBB menerima usul Amerika Serikat tentang pembentukan suatu Committee of Good Offices(Komisi Jasa-jasa Baik) atau yang lebih dikenal Komisi Tiga Negara (KTN). Belanda menunjuk Belgia sebagai anggota, sedangkan Indonesia memilih Australia. Kemudian, antara Indonesia dan Belanda memilih negara pihak ketiga, yakni Amerika Serikat. Akhirnya,terbentuk Komisi Tiga Negara tanggal 18September 1947. Australia dipimpin olch Richard Kirby, Belgia dipimpin oleh Paul van Zeelland, dan Amerika Serikat dipimpin olch Frank Graham.

Perjanjian Linggarjati

Terpilihnya Sutan Syahrir sebagai perdana menteri menandakan berlakunya sistem Kabinet Parlementer yang bermaksud untuk menjadikan Republik Indonesia memiliki kedudukan yang kuat. Hal ini disebabkan pemerintahannya dipimpin oleh seorang tokoh pejuang demokrasi dan bebas dari fasisme. Walaupun cara kepemimpinan melalui diplomasi banyak mendapatkan pertentangan dari tokoh revolusi lainnya, tetapi perundingan menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mendapat pengakuan dari negara-negara lainnya di dunia. Pemerintah Inggris yang ditunjuk sebagai penanggung jawab untuk menyelesaikan konflik politik dan militer di  Asia segera menyelesaikan tugasnya. Pemerintah Inggris menugaskan Sir Archibald Clark Kerr, sedangkan pihak Belanda mengutus H.J. VanMook.

 

Pada 14 sampai 25 April 1946, perwakilan Inggris mengundang Indonesia dan Belanda untuk berunding di Hoogwe Veluwe. Namun sayang, perundingan itu berakhir gagal karena tidak menghasilkan apa-apa. Sebab, Belanda tidak mau mengakui kedaulatan Indonesia sepenuhnya. Pemerintahan Belanda hanya mau mengakui kedaulatan Indonesia atas Pulau Jawa dan Madura. Sehubungan dengan gagalnya perundingan di Hoogwe Veluwe, kemudian disepakati untuk dilaksanakannya Perjanjian Linggarjati di daerah Jawa Barat.

 

Masalah-masalah yang terus-menerus terjadi antara negara Indonesia dengan Belanda menjadi sebuah alasan terjadinya Perjanjian Linggarjati. Masalah ini terjadi karena negara Belanda belum mau mengakui apabila negara Indonesia telah merdeka dan baru saja dideklarasikan. Para pemimpin atau tokoh negara menyadari bahwa mengakhiri permasalahan dengan peperangan hanya akan mengakibatkan dan menelan korban jiwa dari kedua belah pihak, yaitu dari negara Indonesia dan negara Belanda. Oleh sebab itu,negara Inggris berusaha sebisanya untuk mempertemukan negara Indonesia dengan negara Belanda di sebuah meja perundingan untuk membuat atau membentuk sebuah kesepakatan yang sangat jelas. Akhirnya, perjanjian yang memiliki banyak sejarah antara negara Indonesia dan negara Belanda ini 227 terlaksana dan berakhir di daerah Linggarjati, Cirebon, sekitar tanggal 10 November 1946.

 

Lokasi Linggarjati ini berada di lereng Gunung Ciremai yang mempunyai suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah. Selain itu, Residen Cirebon Hamdani maupun Bupati Cirebon Makmun Sumadipradja kebetulan berasal dari Partai Sosialis, sehingga keamanan dari perjanjian ini terjamin. Selain itu, Linggarjati dipilih sebagai tempat dilaksanakannya perundingan karena terletak di tengah-tengah Jakarta dan Yogyakarta -pada saat ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta.

 

Pemerintah Belanda diwakili oleh Komisi Jenderal dan Pemerintah Republik Indonesia pada saat itu diwakili oleh Delegasi Indonesia atas dasar keinginan yang ikhlas.Keduanya hendak menentukan hubungan yang baik pada kedua bangsa, yaitu antara Belanda dan Indonesia. Perundingan ini dilaksanakan pada 10 November 1946.Delegasi Indonesia terdiri dari Sutan Syahrir, Mohammad Roem, Mr. Susanto Tirtoprojo, dan dr.A.K. Gani. Sedangkan delegasi Belanda antara lain Prof. Willem Schermerhorn, F. de Boer, H.J.Van Mook, dan Max van Poll. Bertindak sebagai moderator atau penengah adalah Lord Killearn dari Inggris. Perjanjian ini ditandatangani pada 25 Maret 1947dalam sebuah upacara kenegaraan yang diselenggarakan di Istana Rijswijk atau yang sekarang disebut Istana Negara. Isi dari perjanjian Linggarjati adalah sebagai berikut.a). Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesiadengan wilayah kekuasaan yang meliputi wilayah Sumatra, Jawa, dan Madura. Belanda harus meninggalkan daerah itu selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1949. b). Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dengan membentuk negara serikat dengan nama Republik Indonesia.Oposisi mengkritik Sukarno-Hatta karena menganggap perundingan itu merugikan Indonesia. Serikat (RIS). Pembentukan RIS akan segera dilaksanakan sebelum tanggal 1 Januari 1949. c). Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda yang diketuai oleh Ratu Belanda.

 

Butir-butir perjanjian ini jika dilihat secara sepintas merupakan sebuah kerugian,karena wilayah Indonesia hanya Sumatra, Jawa, dan Madura. Hal ini berbeda jauh  dengan hasil sidang PPKI yang menyatakan bahwa wilayah Indonesia mencakup delapan provinsi. Namun, jika ditelaah lebih jauh lagi, isi perjanjian ini merupakan keunggulan kita secara politik, karena dengan adanya perundingan ini berarti nama Republik Indonesia sudah tercatat dalam hukum perjanjian internasional dan tidak akan bisa dihapus lagi.

Setelah Perjanjian Linggarjati, beberapa negara telah memberikan pengakuan terhadap kekuasaan RI, misalnya Inggris, Amerika Serikat,Mesir,Afganistan,Myanmar,Saudi Arabia, India, dan Pakistan. Perjanjian Linggarjati mengandung prinsip-prinsip pokok yang harus disetujui oleh kedua belah pihak.

Pertempuran Bandung Lautan Api Melawan Sekutu

Latar belakang Peristiwa Bandung Lautan Api berawal dari peristiwa ketika pasukan Sekutu mendarat di Bandung. Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada 17 Oktober 1945. Para pejuang Bandung sedang gencar-gencarnya merebut senjta dan kekuasaan dari tangan Jepang.Pertempuran diawali oleh usaha para pemuda untuk merebut Pangkalan Udara Andir dan pabrik senjata bekas Artillerie Constructie Winkel (ACW)- sekarang Pindad.

Seperti halnya di kota-kota besar lain, di Bandung pasukan Sekutu dan NICA melakukan teror terhadap rakyat sehingga terjadi pertempuran-pertempuran.Menjelang November 1945, pasukan NICA semakin merajalela di Bandung. NICA memanfaatkan kedatangan pasukan Sekutu untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia.Tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan Indonesia melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di wilayah Bandung bagian Utara. Hotel Homann dan Hotel Preanger yang digunakan Sekutu sebagai markas juga tak luput dari serangan. Menanggapi serangan ini,tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum pertama kepada Gubernur Jawa Barat.

Ultimatum ini berisi perintah agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk dari pasukan bersenjata dengan alasan untuk menjaga keamanan.Sekutu menuntut agar Bandung bagian utara dikosongkan oleh pihak Indonesia selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945. Sejak saat itu sring terjadi insiden antara pasukan Sekutu dengan pejuang. Masyarakat Indonesia yang mendengar ultimatum ini tidak mengindahkannya. Sehingga pecah pertempuran antara Sekutu dan pejuang Bandung pada 6 Desember 1945.

Tanggal 23 Maret 1946, Sekutu kembali mengulang ultimatumnya.Sekutu memerintahkan agar TRI (Tentara Republik Indonesia) segera meninggalkan Kota Bandung. TRI diperintahkan untuk mundur sejauh 11 kilometer dari pusat kota paling lambat pada tengah malam tanggal 24 Maret 1946. Mendengar ultimatum tersebut, pemerintah Indonesia di Jakarta lalu menginstrusikan agar TRI mengosongkan Kota Bandung demi keamanan rakyat. Akan tetapi, perintah ini berlainan dengan yang diberikan dari markas TRI di Yogyakarta. Dari Yogyakarta,keluar instruksi agar tetap bertahan di Bandung. Sekutu membagi Bandung dalam dua sektor,yakni Bandung Utara dan Bandung Selatan. Sekutu meminta orang-orang Indonesia untuk meninggalkan Bandung Utara.

Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung dan meninggalkannya dengan alasan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda memakai Kota Bandung sebagai markas strategi militer mereka dalam Perang

Kemerdekaan Indonesia.Operasi pembakaran Bandung ini disebut sebagai operasi “Bumi Hangus”. Keputusan untuk membumihanguskan Kota Bandung diambil lewat musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP) yang dilakukan di depan seluruh kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, tanggal 24 Maret 1946. Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III memutuskan dan memerintahkan untuk segera mengevakuasi seluruh penduduk Bandung dan membumihanguskan semua bangunan yang ada di kota tersebut.

Keputusan pada musyawarah tersebut dipertanyakan oleh sejumlah petinggi militer Indonesia karena dianggap tidak berupaya mempertahankan Kota Bandung hingga titik darah penghabisan. Nasution memiliki alasan yang kuat. Jumlah pasukan RI tidak seimbang dengan kekuatan militer Sekutu. Jika TRI mempertahankan Bandung dengan melawan Sekutu, lambat laun Bandung tetap akan diduduki. Dari segi persenjataan dan jumlah personel, Inggris bukan lawan yang seimbang bagi TRI meskipun dibantu pejuang atau laskar. Saat itu, TRI Bandung hanya memiliki 100pucuk senjata, kebanyakan memakai bambu runcing dan senjata tajam lainnya.Sedangkan Inggris memiliki 12.000 pasukan yang bersenjata lengkap dan modern.Belum lagi dibantu pasukan bayaran Gurkha dan NICA. Nasution tidak mau mengorbankan empat divisi yang ada. Dengan membakar kota Bandung, Sekutu akan menerima puing-puing, mereka akan sulit membangun markas, dan pergerakannya pun akan melambat. Pada saat itu, empat divisi yang ada masih tetap utuh dan mereka akan ditempatkan di kantung-kantung gerilya di dalam kota untuk tindakan perlawanan selanjutnya. Hasil musyawarah itu lalu diumumkan kepada rakyat.

Kebakaran hebat justru muncul dari rumah-rumah warga yang sengaja dibakar, baik oleh pejuang maupun oleh pemilik rumah yang sukarela membakar rumahnya sebelum berangkat mengungsi. Rumah-rumah warga yang dibakar membentang dari Jalan Buah Batu, Cicadas, Cimindi, Cibadak, Pagarsih,Cigereleng, Jalan Sudirman, serta Jalan Kopo. Kobaran api terbesar ada di daerah Cicadas dan Tegalega, di sekitar Ciroyom, Jalan Pangeran Sumedang (Oto Iskandar Dinata), Cikudapateuh, dan lain-lain. Peristiwa pembakaran ini menjadikan Bandung lautan api dikenang hingga kini. Mars Halo-halo Bandung sekarang menjadi lagu wajib nasional. Monumen untuk mengenang peristiwa itu didirikan di Lapangan Tegalega

Pertempuran Medan Area Melawan Sekutu

Pertempuran Medan Area diawali ketika pada 9 November 1945, pasukan Sekutu memasuki Kota Medan di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D Kelly diikuti pasukan NICA yang ingin menguasai kembali Indonesia. Mereka menyatakan kepada pemerintah Indonesia akan melaksanakan tugas kemanusiaan dengan mengevakuasi tawanan dari beberapa kamp di luar Kota Medan. Teuku Muhammad Hasan, Gubernur Wilayah Sumatra, menerima kedatangan pasukan Sekutu untuk alasan kemanusian, karena niat kedatangan tentara Inggris dan NICA adalah untuk membebaskan tawanan perang yang terdapat di kamp-kamp tahanan perang di Rantau Prapat, Pematang Siantar, dan Berastagi untuk dikumpulkan di Medan. Pemerintah RI di Sumatra Utara memperkenankan mereka menempati beberapa hotel di Medan seperti Hotel de Boer, Grand Hotel, Hotel Astoria, dan lain sebagainya karena semata-mata menghormati tugas mereka. Sebagian dari mereka

ditempatkan di Binjai, Tanjung Morawa, dan beberapa tempat lainnya dengan memasang tenda-tenda di lapangan. Sehari setelah merapat di Medan, tim dari RAPWI (Relief of Allied Prisoner of War and Internes) melakukan pembebasan terhadap tawanan di penjara-penjara yang ada di Medan atas persetujuan Gubernur Moh. Hassan. Dengah dalih menjaga keamanan, para bekas tawanan diaktifkan kembali dan dipersenjatai. Ternyata, kelompok itu langsung mejadi batalion KNIL (het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger). Dengan kekuatan itu, terjadi perubahan sikap dari bekas tawanan itu. Mereka bersikap congkak karena merasa sebagai pemenang perang. Sikap ini menimbulkan beberapa insiden yang dilakukan olch para pemuda.

Insiden pertama terjadi di Jl. Bali Medan tanggal 13 Oktober 1945.Insiden berawal dari seorang penghuni hotel yang menginjak injak lencana merah putih yang dipakai oleh seorang warga sekitar. Kejadian tersebut menimbulkan kemarahan para pemuda yang berujung pada penyerangan dan perusakan hotel tersebut. Sebelum kejadian dalam insiden pertama tanggal 10 Oktober 1945, pemerintah Sumatra Timur membentuk TKR yang dipimpin Achmad Tahir dan terdiri atas unsur bekas Heiho dan Giyugun (di Jawa bernama Peta). Selain TKR, terbentuk pula badan perjuangan yang bernama Pemuda Republik Indonesia Sumatra Timur. Panggilan ini mendapat sambutan luar biasa dari para pemuda. Pada 18 Oktober 1945, Brigadir Jenderal T.E.D Kelly berusaha melemahkan gerakan rakyat Medan dengan menyampaikan ultimatum agar pemuda menyerahkan senjata kepada Sekutu. Sekutu mulai melakukan pembersihan di berbagai wilayah kota Medan. Sekutu juga mulai melakukan aksi-aksi terornya sehingga muncul permusuhan di kalangan pemuda.Patroli diadakan Inggris karena mereka merasa tidak aman dan pemerintah Indonesia tidak memberikan jaminan keamanan. Meningkatnya korban di pihak Inggris di beberapa insiden membuat mereka memperkuat kedudukannya dan menentukan sendiri secara sepihak batas kekuasaannya.

Pada 1 Desember 1945,Sekutu memperkuat dan menegaskan kedudukannya dengan memasang patok-patok di sudut kota. Pemasangan patok-patok tersebut diserta dengan pemasangan papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area (Batas Resmi Wilayah Medan). Tentara Sekutu kemudian melakukan pembersihan terhadap orang- orang Indonesia yang berada di wilayah Medan Area.Sekutu juga mendesak agar pemerintahan Indonesia yang ada di Medan segera keluar dari wilayah tersebut. Tindakan Sekutu tersebut mendapat balasan dari rakyat Medan dengan perlawanan bersenjata. Pada 10 Desember 1945, pasukan Sekutu melakukan serangan terhadap kedudukan TKR di Trepes. Para pejuang menculik seorang perwira Inggris dan menghancurkan beberapa truk.

Dengan adanya peristiwa itu Brigadir Jenderal T.E.D Kelly pada 13 Desember 1945 mengeluarkan ultimatum kedua. Bangsa Indonesia dilarang untuk membawa senjata di dalam daerah Medan atau 8,5 kilometer sekitar Medan. Bagi yang membantah akan di tembak mati. Setelah keluarnya ultimatum kedua, tentara Sekutu dengan aktif melakukan razia dan sering mendapatkan serangan balik dari pemuda Indonesia. Saling serang ini mengakibatkan kondisi Medan menjadi tidak kondusif.Pertempuran setelah ancaman kedua berlanjut sampai April 1946 dan mengakibatkan kerusakan parah. Akhirnya, kantor gubernur, markas divisi TKR, serta kantor wali kota, dipindahkan ke Pematang Siantar. Dengan demikian, Sekutu menguasai Kota

Medan.Karena serangan yang tidak terkordinasi, maka pada 10 Agustus 1946 di Tebing Tinggi seluruh pemuda di bawah Napindo dari PNI, Pesindo, Barisan Merah dari PKI, Hizbullah dari Masyumi, dan Pemuda Parkindo membentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area (K.R.L.R.M.A.).Kapten Nip Karim dan Marzuki Lubis dipilih sebagai Komandan dan Kepala Staf Umum. Di bawah komando inilah mereka meneruskan perjuangan di Medan Area. 

Pertempuran Palagan Ambarawa

Melawan Sekutu Pertempuran Ambarawa terjadi pada 29 November 1945 dan berakhir pada 15 Desember 1945. Pada 20 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah komando Brigadir Jenderal Bethell mendarat di Semarang untuk melucuti senjata pasukan Jepang dan membebaskan tahanan perang yang masih ditahan di kamp-kamp konsentrasi di Jawa Tengah. Awalnya, pasukan disambut di daerah itu. Gubernur Jawa Tengah Wongsonegoro setuju untuk memberi mereka makanan dan kebutuhan lainnya sebagai imbalan janji Sekutu untuk menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Ternyata, mereka diboncengi oleh NICA.

Pada 26 Oktober 1945, pecah insiden di Magelang yang berkembang menjadi pertempuran antara TKR dengan tentara Sekutu. Insiden itu berhenti setelah kedatangan Presiden Sukarno dengan Brigadir Jenderal Bethell di Magelang pada 2November 1945. Mereka mengadakan perundingan gencatan senjata dan tercapai kata sepakat berikut ini.

a.       Pihak Sekutu tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melakukan kewajibannya melindungi dan mengurus tawanan perang Jepang dan interniran Sekutu.

b.      Jalan raya Magelang-Ambarawa terbuka bagi lalu lintas Indonesia-Sekutu.

c.       Sekutu tidak mengakui aktifitas NICA dan badan-badan yang berada di bawah NICA.

Ternyata, Sekutu ingkar janji. Pada 20 November 1945, di Ambarawa pecah pertempuran antara pasukan TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto melawan tentara Sekutu. Tanggal 21 November 1945,tentara Sekutu yang berada di Magelang ditarik ke Ambarawa di bawah lindungan pesawat tempur. Ketika pasukan Sekutu dan NICA tiba di Ambarawa, mereka membebaskan sekitar 28.000 tahanan Belanda termasuk wanita dan anak-anak dari kamp konsentrasi di dalamnya. Mereka mempersenjatai kembali para tahanan interniran Belanda untuk memperkuat pasukan mereka melawan TKR. Tanggal 22 November 1945, pertempuran terjadi di dalam kota dan pasukan Sekutu melakukan pengeboman di kampung-kampung sekitar Ambarawa. Karena di dukung oleh tank dan pesawat tempur, Sekutu terus bergerak ke Magelang.Di bawah kepemimpinan Letnan Kolonel Sarbini, pemimpin Resimen Magelang, didukung oleh pasukan gabungan dari Ambarawa dan Surakarta yang dipimpin oleh Oni Sastrodihardjo, tentara Republik dapat mengepung dan hendak menghancurkan pasukan Sekutu. Menghindar dari ancaman besar seperti itu,Sekutu mundur dari Magelang dan kembali ke Ambarawa. Mereka mendirikan benteng di dua desa di dekat kota. Tempat mereka kemudian diserang oleh pasukan Indonesia.

Tanggal 26 November 1945,komandan sektor itu, Letnan Kolonel Isdiman,tidak dapat sepenuhnya menyelesaikan misi karena meninggal dalam serangan udara Sekutu yang diserang peluru senapan mesin Mustang. Gugurnya Letnan Kolonel Isdiman seolah membakar semangat juang pasukan TKR di Palagan Ambarawa.Kolonel Sudirman, Panglima Divisi 5 Banyumas, yang kehilangan salah satu perwira terbaiknya, memutuskan untuk mengambil alih kepemimpinan pertempuran itu sendiri. Dia mengoordinasikan komandan sektor untuk memperketat pengepungan. Kehadiran Sudirman ini semakin menambah semangat tempur TKR dan para pejuang yang sedang bertempur di Ambarawa.

Tanggal 12 Desember 1945, Sudirman mengoordinasikan bawahannya untuk mengusir Sekutu dari Ambarawa dengan segala cara. Saat itu, ia menggunakan teknik yang disebut Supit Urang (menjepit dari dua sisi), yang berasal dari kisah perang Bharata Yudha. Taktik ini segera diterapkan sehingga musuh mulai terjepit dan situasi pertempuran semakin menguntungkan pasukan TKR. Selama empat hari,pertempuran berlangsung terus-menerus sehingga pasukan Sekutu benar-benar terputus dari markas mereka di Semarang. Tentara-tentara Indonesia yang didukung oleh orang-orang sipil yang direkrut bertempur dengan sengit melawan pasukan Sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris, NICA, dan para tahanan Jepang yang dipersenjatai kembali.

Angkatan Udara Kerajaan Inggris secara intensif membombardir Ungaran untuk membuka jalan ke Semarang yang kemudian dipegang oleh pasukan Indonesia dan memberondong Ambarawa dari udara berulang kali. Sekutu juga melancarkan serangan udara ke Solo dan Yogyakarta yang bertujuan untuk menghancurkan stasiun radio lokal tempat semangat juang dipertahankan. Tanggal 15 Desember 1945,pertempuran yang dimulai oleh pasukan Sekutu berakhir dengan sebuah bencana.Ambarawa menjadi lautan api ketika pasukan Sekutu membakar rumah-rumah lokal sebelum mereka mundur ke Semarang. Dalam pertempuran itu,pasukan TKR mengalami kemenangan karena bisa memukul mundur Sekutu dari Ambarawa menuju Semarang. Kolonel Sudirman masih dalam pakaian seragamnya mengambil air wudhu dan kemudian bersimpuh salat sujud syukur. Tidak banyak yang tahu bahwa orang yang bersujud syukur itu baru saja menyelesaikan tugasnya mengukuhkan akar kemerdekaan bangsanya. Tidak banyak pula yang mengetahui bahwa pria yang bersimpuh itu pada konferensi besar TKR tanggal 12 November 1945 terpilih menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia yang masih sangat muda.

Pada 15 Desember 1974, hari ketika Sekutu diusir dari Ambarawa, Presiden Suharto meresmikan Monumen Nasional Ambarawa Battlefield untuk memperingati peristiwa heroik. Kemenangan pertempuran itu kini diabadikan dengan berdirinya Monumen Ambarawa dan diperingati sebagai Hari Tentara Juang Kartika.

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

Melawan Sekutu Setelah proklamasi kemerdekaan, para pemuda Surabaya berhasil memperoleh senjata dari tentara Jepang yang dilucuti setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. Para pemuda Surabaya sudah terorganisasi sehingga mereka sudah siap menghadapi segala ancaman yang datang dari manapun.

Pada 25 Oktober 1945, Brigade 49 dari Divisi 23 Sekutu yang berkekuatan sekitar 5.000 tentara mendarat di Surabaya di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Setibanya di Surabaya, mereka segera masuk ke dalam kota dan mendirikan pos pertahanan di delapan tempat. Pemerintah dan rakyat Indonesia awalnya menyambut kedatangan tentara Sekutu tersebut dengan tangan terbuka. Ketika tentara Sekutu ingin segera melucuti semua persenjataan yang telah dikuasai rakyat, Sekutu memperoleh tentangan keras dari pemimpin Indonesia di Surabaya sehingga akhirnya Sekutu mengalah.

Tanggal 26 Oktober 1945, dicapai kesepakatan antara pimpinan Indonesia dengan Brigadir Mallaby, yang isinya antara lain sebagai berikut. a. Senjata-senjatanya yang dilucuti hanya senjata tentara Jepang. b. Tentara Inggris selaku wakil Sekutu akan membantu Indonesia dalam pemeliharaan keamanan dan perdamaian.Setelah semua senjata tentara Jepang dilucuti, mereka akan diangkut melalui laut.Meskipun kesepakatan baru saja tercapai, Sekutu justru mengingkarinya. Pada malam hari, 26 Oktober 1945, Sekutu menyerang Penjara Kalisosok. Tentara Sekutu membebaskan Kolonel Huiyer, seorang perwira Belanda beserta beberapa tentara Belanda yang ditawan pasukan Indonesia.

Pada 27 Oktober 1945, pukul 11.00, sebuah pesawat Dakota melintas dari Jakarta. Atas perintah Mayjend. Hawthorn, pesawat itu menyebarkan pamflet yang berisi perintah penyerahan senjata yang dimiliki rakyat Indonesia kepada tentara Sekutu. Dalam waktu 2 kali 24 jam, seluruh senjata harus sudah diserahkan dan bagi yang masih membawa senjata melewati batas waktu itu akan ditembak di tempat. Hal ini jelas bertentangan dengan kesepakatan sehari sebelumnya yang telah disetujui Mallaby.

Dikabarkan Mallaby sempat terkejut dengan adanya pamflet tersebut, tetapi ia tetap mematuhi perintah pimpinannya di Jakarta dan segera memerintahkan pasukannya untuk melucuti senjata rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya menilai pihak Inggris telah melanggar perjanjian. Akhirnya, pimpinan militer di Surabaya memberikan perintah untuk menyerbu seluruh pos pertahanan Inggris.

Pada saat yang hampir bersamaan para pemimpin (NU) Nahdlatul Ulama dan Masyumi menyatakan bahwa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah Perang Sabil sehingga menjadi suatu kewajiban yang melekat pada semua muslim.Para kiai dan santri kemudian mulai bergerak dari pesantren pesantren di Jawa Timur menuju ke Surabaya.

Serangan total dilakukan pada 28 Oktober 1945 pukul 04.30. Delapan pos pertahanan Sekutu diserbu sekitar 30.000 rakyat bersenjata api dan ditambah sekitar 100.000 rakyat bersenjata tajam. Setelah digempur secara total, tentara Sekutu yang tidak siap bertempur mengibarkan bendera putih dan memohon untuk berunding. Dari pertempuran yang berlangsung pada 28-29 Oktober 1945, Inggris mencatat 18perwira dan 374 tentara Sekutu tewas, luka-luka, dan hilang. Sementara di pihak

Indonesia, sekitar 6.000 orang gugur, luka-luka, dan hilang. Kapten R.C Smith menulis, Mallaby saat itu menyadari apabila petempuran dilanjutkan mereka akan disapu bersih. Dalam posisi yang terdesak, Inggris menghubungi pimpinan Indonesia di Jakarta. Mereka sadar, tidak ada jalan lain selain meminta bantuan pimpinan Indonesia di Jakarta untuk menyelamatkan nyawa ribuan tentara Inggris yang sudah terkepung.

Sore hari, 29 Oktober 1945, Presiden Sukarno, Wakil Presiden Moh. Hatta,dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin tiba di Surabaya dengan menumpang pesawat militer Inggris. Hlari itu juga, Presiden bertemu dengan Mallaby di gubernuran. Malam itu dicapai kesepakatan yang tertuang dalam Armistice Agreement regarding the Surabaya-incident: a provisional agreement between President Soekarno of the Republic Indonesia and Brigadie Mallaby,Concluded on the 29 October 1945.

Mengenai hal lain dirundingkan dengan Mayjend. Hawthorn, yang datang ke Surabaya pada 30 Oktober 1945. Berikut beberapa hasil kesepakatan yang diperoleh pada tanggal 30 Oktober 1945 antara pemimpin Indonesia dan pemimpin pasukan Sekutu di Indonesia. a. Pamflet yang ditandatangani Mayjend. Hawthorn dinyatakan tidak berlaku. b. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan polisi diakui oleh Sekutu. c. Seluruh Kota Surabaya tidak dijaga lagi oleh Sekutu, kecuali kamp-kamp tawanan dijaga tentara Sekutu bersama TKR. d. Untuk sementara waktu, Tanjung Perak dijaga bersama TKR, polisi, dan tentara Sekutu untuk menyelesaikan tugas menerima obat- obatan untuk tawanan perang.

Hasil perundingan untuk menyelamatkan pasukan Mallaby dari kekalahan total dipertegas oleh menteri penerangan sebagai berikut. a. Pembentukan suatu Kontak Biro yang terdiri dari unsur pemerintah RI di Surabaya bersama-sama tentara Inggris.b. Daerah pelabuhan dijaga bersama, yang ditentukan kedudukan masing-masing oleh Kontak Biro. c. Daerah Darmo, daerah kamp interniran orang-orang Eropa dijaga oleh sekutu. Hubungan antara daerah Darmo dan pelabuhan Tanjung Perak diamankan untuk mempercepat proses pemindahan tawanan. d.Tawanan dari kedua belah pihak harus dikembalikan kepada masing-masing pihak.

Pukul 17.00, tanggal 30 Oktober 1945, seluruh anggota Kontak Biro pergi bersama-sama menuju satu lokasi pertempuran. Tempat terakhir ini adalah Gedung Bank Internasional di Jembatan Merah. Gedung ini masih diduduki pasukan Inggris dan pemuda-pemuda masih mengepungnya. Setibanya di lokasi pertempuran, pemuda pemuda menuntut supaya pasukan Mallaby menyerah.Mallaby tidak bisa menerima tuntutan itu. Setelah penolakan tersebut, terjadi insiden baku tembak yang mengakibatkan tewasnya Mallaby, Komadan Brigade 49,di Surabaya. Inggris menyalahkan pihak Indonesia yang telah melanggar gencatan senjata dan membunuh Mallaby.

Dari berbagai kesaksian mantan perwira Inggris di tempat kejadian, ternyata yang memulai tembakan adalah pihak Inggris, sesuai kesaksian Mayor Gopal tahun 1974. Penyebab tewasnya Mallaby sendiri masih menjadi misteri. Ada yang mengatakan tertusuk bayonet dan bambu runcing pemuda. Namun, berdasarkan surat dari Kapten Smith kepada Parrot tahun 1973-1974, kemungkinan besar Mallaby terbunuh karena ledakan granat yang dilempar pengawalnyasendiri.

Setelah tewasnya Mallaby,baik Letnan Jenderal Christison, panglima AFNEI,atau pun Mayor Jenderal Mansergh menyatakan, pihak Indonesia telah melanggar gencatan senjata dan secara licik membunuh Brigjend. Mallaby. Dengan tuduhan tersebut, Inggris memperoleh alasan untuk memenuhi perjanjiannya dengan Belanda,yaitu membersihkan kekuatan bersenjta Indonesia. Pihak Inggris menuntut pertanggungjawaban pihak Indonesia. Pada 31 Oktober 1945, Letnan Jenderal Christison memperingatkan kepada rakyat Surabaya untuk menyerah. Apabila tidak, mereka akan dihancurkan. Rakyat Surabaya tidak mau memenuhi tuntutan tersebut. Kontak Biro Indonesia pun mengumumkan bahwa kematian Mallaby merupakan suatu kecelakaan.

Letjen Sir Philip Christison yang marah besar mendengar kabar kematian Brigjend. Mallaby mengerahkan 24.000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya. Secara diam-diam, Sekutu memperkuat posisinya. Tanggal 1 November 1945, pukul 08.00, Laksamana Muda Patterson dengan Kapal Perang HMS Sussex tiba di Surabaya. Sejumlah 1.500 pasukan didaratkan dengan Kapal Carron dan Cavallier.

Tanggal 3 November 1945, menyusul pula Mayor Jendral E.C. Manseergh,Panglima Divisi ke-5 Infanteri India, yang tiba di Surabaya dengan membawa 24.000pasukan, lengkap dengan panser, satu divisi artileri dilindungi dari Tanjung Perak dan Ujung oleh satu cruiser dan empat destroyer dengan meriam jarak jauh yang lengkap,ditambah 21 sherman tank dan meriam yang dilindungi 24 pesawat terbang jenis Mosquito (pemburu) dan Thunderbolts (pelempar bom). Pesawat-pesawat ini berpangkalan di kapal-kapal perusak yang mengadakan straffing serta menjatuhkan bom-bom di Surabaya. Kekuatan laut yang dikerahkan oleh Inggris terdiri dari jenis kapal LST destroyer. Kapal itu dibawah komando Naval Commander Force 64 yang dipimpin oleh Captain R.C.S. Carwood. Beberapa buah kapal ini sudah beroperasi sejak kedatangan Inggris pada 25 Oktober 1945. Masih banyak lagi kekuatan Inggris dari laut, udara, dan darat untuk menyerbu Surabaya pada 10November 1945.

Kemudian, pada 7 November 1945, Mayor Jendral E.C. Mansergh menulis surat kepada Gubernur Suryo yang isinya menuduh gubernur tidak mampu menguasai keadaan. Akibatnya, seluruh kota dikuasai oleh perampok. Mereka dianggap menghalangi tugas Sekutu. Untuk itu, Sekutu mengancam akan menduduki Kota Surabaya serta memanggil Gubernur Suryo untuk menghadap.Dalam surat jawabannya, tertanggal 9 November 1945, Gubernur Suryo membantah semua tuduhan Mayor Jendral E.C. Mansergh. Gubernur Suryo mengutus Residen Sudirman dan Roeslan Abdulgani untuk menyampaikan surat balasan tersebut.Pada hari yang sama, pukul 14.00, Mayor Jendral E.C. Mansergh menyerahkan 2surat kepada Gubernur Suryo. Surat yang pertama berupa ultimatum yang ditujukan kepada “All Indonesians of Surabaya" lengkap dengan "Instructions”. Surat yang kedua merupakan perincian dari ultimatum tersebut. Bunyi ultimatum yang disebarkan sebagai pamflet melalui pesawat udara pada 9 November 1945 pukul 14.00 yakni,“Seluruh pimpinan Indonesia, termasuk pimpinan gerakan pemuda,kepala polisi, dan kepala radio Surabaya harus melapor ke Bataviaweg tanggal 9November pukul 18.00. Mereka harus berbaris satu per satu membawa segala jenis senjata yang mereka miliki. Senjata tersebut harus diletakkan di tempat yang berjarak

100 yard dari tempat pertemuan, setelah itu orang-orang Indonesia harus datang dengan tangan di atas kepala mereka, dan akan ditahan, dan harus siap untuk menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat. Bagi pemuda- pemuda bersenjata diharuskan menyerahkan senjatanya dengan berbaris dan membawa bendera putih. Batas waktu yang ditentukan adalah pukul 06.00 pagi tanggal 10November 1945. Apabila tidak diindahkan, Inggris akan mengerahkan seluruh kekuatan darat, laut, dan udara untuk menghancurkan Surabaya.”

Dengan adanya ultimatum ini, pemimpin Surabaya mengadakan pertemuan. Mereka melaporkan kepada presiden, tetapi hanya diterima oleh Menteri Luar Negeri Ahmad Subardjo. Menteri luar negeri menyerahkan keputusan kepada rakyat Surabaya. Secara resmi pada pukul 22.00, Gubernur Soeryo melalui radio,menyatakan menolak ultimatum Inggris.

Tanggal 10 November 1945, pukul 06.00, setelah habisnya waktu ultimatum,Inggris mulai menggempur Surabaya dengan seluruh armada darat, laut, dan udara.Pemboman secara brutal pada hari pertama telah menimbulkan korban yang sangat besar. Di pasar Turi, ratusan orang tewas dan luka-luka. Inggris juga berhasil menguasai garis pertama pertahanan rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya tidak tinggal diam. Mereka melakukan perlawanan atas serangan tersebut. Pertempuran yang tidak seimbang selama tiga minggu telah mengakibatkan sekitar 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban, sebagian besar adalah warga sipil. Selai itu, diperkirakan 150.000orang terpaksa meninggalkan Kota Surabaya yang hampir hancur total terkena serangan Sekutu. Sementara di pihak Inggris tercatat 1.500 tentara Inggris tewas,hilang,dan luka-luka.

Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Seluruh kota telah jatuh ke tangan Sekutu. Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari. Namun, para tokoh masyarakat, seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat, terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kiai-kiai pondok Jawa seperti K.H. Hasyim Asy'ari, K.H. Wahab Hasbullah, serta kiai-kiai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan, tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kiai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu.

Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasí makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu sebelum seluruh Kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris tanggal 28 November 1945. Pertempuran Surabaya berakhir dengan kekalahan pihak Indonesia. Akan tetapi, perang tersebut membuktikan bahwa rakyat Indonesia rela berkorban demi mempertahankan kemerdekaan mereka meskipun harus dibayar dengan nyawa. Sebagai penghormatan atas jasa para pahlawan yang berperang dengan gigih melawan Sekutu di Surabaya, Sukarno menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Kedatangan Sekutu Dan Belanda di Indonesia

Proklamasi kemerdekaan bukanlah titik akhir dari sebuah perjuangan. Tantangan di depan mata terlihat jelas, yakni Belanda ternyata masih ingin menguasai Indonesia.Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II dengan memaksa Jepang menyerah merasa memiliki hak untuk menentukan nasib bangsa Indonesia. Pemerintah memang terbentuk,alat kelengkapan sebagai sebuah negara yang berdiri juga sudah ada, misalnya presiden dan wakilnya, parlemen, kementerian, dasar negara sampai alat negara(tentara),juga sudah terbentuk. Namun, karena negara ini baru lahir, maka kekurangan masih ada dimana-mana.

Kondisi perekonomian belum mapan sehingga inflasi sangat membuat rakyat menderita. Saat itu, Indonesia belum mempunyai mata uang sendiri, sedangkan peredaran mata uang Jepang semakin tidak terkendali. Mata uang Jepang tidak bisa dilarang karena rakyat masih membutuhkan dan Indonesia belum mempunyai mata uang sendiri. Saat itu,mata uang yang beredar di Indonesia ada tiga, yakni 1) mata uang rupiah Jepang, 2) mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan 3) mata uang NICA. Sementara itu, Belanda (NICA) terus menekan pemerintah Indonesia sehingga Jakarta dirasakan tidak aman lagi.Kekacauan secara ekonomi dan politik di Jakarta inilah yang menyebabkan pada 4Januari 1946 ibu kota RI yang ada di Jakarta pindah ke Yogyakarta.

Baru setelah 1 Oktober 1946, Indonesia mengeluarkan mata uang resmi yang dikenal dengan nama uang ORI sehingga uang NICA dinyatakan sebagai alat tukar yang tidak sah Belanda, Australia, dan Amerika Serikat merupakan negara yang membentuk koalisi dalam Perang Dunia II. Mereka saling melindungi. Untuk itulah, tidak mengherankan jika setelah Jepang membuat Belanda bertekuk lutut, tentara Belanda bukannya dikembalikan ke negara asal, tetapi mereka melarikan diri ke Australia.

Ketika Jepang menyerah, maka Indonesia dinyatakan sebagai vacuum of power atau kekosongan kekuasaan. Setelah Jepang kalah, maka tentara Belanda yang melarikan diri ke Australia kembali ke Indonesia untuk berusaha menguasai lagi. Karena Indonesia sudah menyatakan dirinya merdeka, maka terjadi benturan antara mempertahankan kemerdekaan dengan keinginan untuk menguasai lagi.

Sekutu masuk ke Indonesia melalui beberapa pintu, terutama daerah yang merupakan pusat pemerintahan pendudukan Jepang seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Setelah Perang Dunia II selesai, terjadi perundingan antara Belanda dengan Inggris yang menghasilkan Civil Affairs Agreement.

Isi dari perundingan itu adalah tentang pengaturan penyerahan kembali Indonesia dari pihak Inggris kepada pihak Belanda, terutama daerah Sumatra, sebagai daerah di bawah pengawasan. SEAC (South East Asia Command). Dalam perundingan itu, diatur langkah-langkah sebagai berikut. a. Tentara Sekutu akan mengadakan operasi militer untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. b. Setelah keadaan normal, pejabat-pejabat NICA akan mengambil alih tanggung jawab koloni dari pihak Inggris yang mewakili Sekutu.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, pemerintah Belanda mendesak kepada Inggris agar segera mengesahkan perjanjian itu. Akhirnya,perjanjian disahkan pada 24 Agutus 1945. Berdasarkan Perjanjian Postdam, Civil Affairs Agreement diperluas, yakni Inggris bertanggung jawab untuk seluruh Indonesia,termasuk daerah yang berada di bawah pengawasan SWPAC (South West Pasific Areas

Command). Untuk melaksanakan Perjanjian Postdam, maka SWPAC yang dipimpin Lord Louis Mountbatten di Singapura segera mengatur pendaratan Sekutu di Indonesia.Kemudian,pada 16 September 1945, wakil Mountbatten, yakni Laksamana Muda W.R.Patterson, mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Di dalam rombongan W.R.Patterson ikut serta Van Der Plass, seorang Belanda yang mewakili H.J. Van Mook (pemimpin NICA). Kemudian, Lord Louis Mountbatten membentuk pasukan komando khusus yang diberi nama AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indiers) di bawah komando Letnan Jenderal Sir Philip Christison.

Tugas AFNEI sebagi berikut, 1) menerima penyerahan kekuasaan Jepang tanpa syarat; 2) membebaskan tawanan perang; 3) melucuti dan mengumpulkan orang-orang Jepang untuk dipulangkan ke negerinya; 4) menciptakan ketertiban, keamanan,perdamaian untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil; 5) mengumpulkan keterangan tentang penjahat perang untuk kemudian diadili sesuai hukum yang berlaku.Pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI juga mendarat di Jakarta pada 29September 1945. Kedatangan Sekutu tentunya tidak menyenangkan bagi bangsa Indonesia,karena ternyata NICA (Netherland Indies Civil Administration) ikut di dalamnya karena ingin menjajah Indonesia kembali. Untuk menjalankan tugasnya,AFNEI menyadari harus berkerja sama dengan pemerintah RI. Untuk itulah, pad 1Oktober 1945,Letnan Jenderal Sir Philip Christison secara de facto mengakui tentang keberadaan negara Indonesia. Namun, pengakuan ini sering dilanggar karena adanya berbagai pertempuran. AFNEI menyadari harus berkerja sama dengan pemerintah RI.Untuk itulah, pada 1 Oktober 1945, Letnan Jenderal Sir Philip Christison secara de facto mengakui tentang keberadaan negara Indonesia. Namun, pengakuan ini sering dilanggar karena adanya berbagai pertempuran.


Masa Kerajaan Hindu - Buddha di Indonesia

  Masa Kerajaan Hindu - Buddha di Indonesia